MUSI BANYUASIN ,lenteraoku.com 18/03/2026;– Arus mudik Lebaran 2026 di Jalur Lintas Timur (Jalintim) Sumatera mengalami ujian berat.
Kepadatan kendaraan yang mengular hingga puluhan kilometer di wilayah hukum Polres Musi Banyuasin (Muba) memaksa jajaran kepolisian bergerak cepat.
Tak hanya mengandalkan laporan dari bawah, Kapolres Muba AKBP Ruri Prastowo memilih terjun langsung ke lapangan, memimpin penguraian kemacetan di titik-titik terparah jalur penghubung Palembang–Jambi tersebut, Selasa (17/3/2026) malam.
Langkah heroik ini merupakan bagian dari Operasi Ketupat Musi 2026 yang digelar Polda Sumatera Selatan untuk mengamankan arus mudik nasional.
Jalintim, sebagai urat nadi transportasi darat di Pulau Sumatera, menjadi prioritas utama pengamanan karena tingginya volume kendaraan pemudik dan logistik.
Kemacetan parah dilaporkan terjadi di dua segmen utama Jalintim yang melintasi Kabupaten Muba.
Pertama, di ruas Km 148 hingga Km 160 yang berada di wilayah Simpang Tungkal. Kedua, di ruas Km 176 hingga Km 185. Di kedua titik ini, kendaraan dari arah Palembang menuju Jambi dan sebaliknya, tersendat sangat lambat, bahkan sempat berhenti total dalam beberapa waktu.
AKBP Ruri Prastowo tidak hanya memantau dari ruang kerjanya. Ia memimpin langsung tim gabungan yang terdiri dari personel Satlantas Polres Muba, dibantu pasukan Brimob Polda Sumsel serta tim dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumsel.
Kehadiran orang nomor satu di jajaran Polres Muba ini menjadi komando di lapangan untuk mengambil keputusan cepat dan tepat.
Lonjakan kendaraan terpantau mulai terjadi sejak H-7 Lebaran, tepatnya tanggal 14 hingga 16 Maret 2026.
Puncak arus mudik awal ini didominasi kendaraan pribadi dan truk logistik yang menuju provinsi Jambi, Riau, dan Sumatera Utara. Titik-titik rawan macet berada di wilayah administratif Kabupaten Musi Banyuasin, yang dikenal memiliki kontur jalan menanjak dan menurun.
Berdasarkan identifikasi tim Polda Sumsel di lapangan, kemacetan terjadi akibat akumulasi sejumlah faktor krusial:
Di beberapa titik, khususnya Km 148–160, jalan berkelok dan bergelombang dengan tanjakan serta turunan tajam.
Kondisi ini memaksa kendaraan besar seperti truk tronton melaju sangat pelan, bahkan merangkak.
Operasional angkutan barang belum dihentikan total, sehingga truk-truk besar bercampur dengan kendaraan pemudik, memperlambat laju kendaraan di belakangnya.
Rem blong atau mesin overheat pada kendaraan berat kerap terjadi di jalur tanjakan, memakan badan jalan dan menciptakan hambatan (bottleneck).
Masih ditemukannya oknum pengendara yang nekat melawan arus (contra flow) untuk menyalip, yang justru memperparah kekacauan lalu lintas.
Lebar badan jalan yang tidak memadai untuk menampung lonjakan volume kendaraan di musim mudik.
Polda Sumsel melalui jajaran Polres Muba menerapkan strategi darurat penguraian kemacetan:
Sistem Tarik Ulur (One Way Lokal): Petugas memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan menghentikan kendaraan dari satu arah secara bergantian untuk memberikan kesempatan kendaraan dari arah berlawanan keluar dari titik kemacetan.
Pengantongan (Pooling) Kendaraan Besar: Truk-truk berat diimbau untuk menepi sementara di rest area atau lokasi aman yang telah disiapkan, guna memberi ruang bagi kendaraan ringan pemudik untuk melintas lebih dulu.
Evakuasi Cepat dengan Alat Berat: Polres Muba menyiagakan kendaraan derek dan alat berat di titik-titik rawan.
Setiap ada kendaraan mogok atau kecelakaan, langsung dievakuasi ke bahu jalan.
Kapolres di Garda Terdepan: AKBP Ruri Prastowo bersama personelnya bertahan di lokasi macet hingga larut malam, bahkan memastikan pengaturan lalu lintas tetap berjalan saat waktu berbuka puasa dan sahur.
Di tengah kemacetan, personel Polres Muba membagikan takjil dan air mineral kepada para pemudik yang terjebak perjalanan, sebagai bentuk empati dan pelayanan prima Polri.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho menegaskan bahwa pengamanan Jalintim adalah harga mati.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran untuk responsif dan tidak boleh ada kemacetan berkepanjangan.
“Kami pastikan seluruh jajaran bergerak cepat dan responsif di lapangan.
Jalintim adalah jalur strategis nasional, sehingga tidak boleh terjadi kemacetan berkepanjangan yang menghambat mobilitas masyarakat,” tegas Kapolda.
Senada dengan itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menyatakan bahwa langkah Kapolres Muba turun langsung adalah bukti nyata kehadiran negara.
“Polda Sumsel memastikan seluruh jajaran bergerak cepat dan hadir langsung di lapangan.
Ini komitmen kami untuk memberikan rasa aman dan pelayanan terbaik bagi pemudik,” ujarnya.
Berkat langkah cepat tersebut, arus kendaraan di Jalintim Muba mulai menunjukkan tanda-tanda penguraian.
Kendaraan yang sempat mengular mulai bergerak meski perlahan. Polda Sumsel mengimbau masyarakat untuk terus bersabar, mematuhi arahan petugas, tidak melawan arus, serta memastikan kondisi kendaraan prima sebelum melakukan perjalanan. Untuk kondisi darurat, masyarakat dapat menghubungi Call Center Polri 110.
(Red)


