OKU, lenteraoku.com ,19 Maret 2026 – Idul Fitri 1447 Hijriah tinggal menghitung jam, namun denyut nadi kehidupan di Kabupaten OKU justru berdetak kencang di ambang batas.
Bukan sekadar euforia kemenangan, suasana di sejumlah pasar tradisional Kamis dini hari ini lebih mirip medan pertempuran ekonomi rakyat yang tengah berada di ujung tanduk.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan, pasar tidak lagi sekadar ruang transaksi, melainkan arena survival masyarakat kelas bawah yang berdesakan mengejar sisa-sisa rezeki sebelum hari raya “menggulung” semuanya.
Lorong-lorong pasar sesak oleh tubuh-tubuh yang larut dalam hiruk-pikuk.
Di luar, kemacetan parah kendaraan roda dua seolah menjadi alegori dari himpitan hidup yang kian menyempit.
Para pedagang sembako berteriak menjajakan beras, gula, dan minyak goreng — komoditas yang harganya kerap melambung tak karuan di ujung Ramadhan.
Bagi mereka, ini adalah momentum paling menentukan: bisa bertahan atau justru terperosok lebih dalam setelah Lebaran.
Namun, ironi tajam terlihat dari fenomena yang tak pernah lekang oleh waktu: serbuan bunga untuk tradisi “nyekar” atau ziarah kubur.
Di tengah gejolak harga bahan pokok yang menguras keringat, permintaan bunga segar justru meroket.
Para ibu berjilbab yang biasa menata bunga di baskom basah, pagi itu kebanjiran order. Masyarakat rela merogoh kocek lebih untuk membawa bunga ke makam leluhur—sebuah ritual yang sakral, namun di saat yang sama, menguras isi dompet yang sudah menjuntai.
“Bunga laku keras, Buat. Orang-orang pada beli buat ke kuburan. Ini bukan cuma soal belanja, ini soal ‘harga diri’ di mata leluhur,” ujar seorang pedagang bunga dengan nada getir, sembari tangannya cekatan merangkai melati.
Pasar subuh dan pasar malam pun diperpanjang, seolah enggan tidur sebelum pundi-pundi terisi. Sayuran dan lauk-pauk berpindah tangan dengan cepat, di tengah kekhawatiran bahwa setelah Lebaran, roda ekonomi bakal kembali melambat, bahkan nyaris berhenti.
Di sini, di ujung tanduk Ramadhan, terlihat jelas dua sisi mata uang yang tajam di satu sisi, ekonomi rakyat menggeliat sekarat, berusaha menghirup oksien dari transaksi-transaksi kecil; di sisi lain, tradisi dan spiritualitas justru menjadi beban lain yang harus ditanggung di tengah keterbatasan.
Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Berbelanjalah dengan perhitungan, karena Idul Fitri bukan tentang berapa banyak yang kau beli atau seberapa indah bunga yang kau tabur di pusara, tetapi tentang apakah setelah Lebaran, dapurmu masih bisa mengepul.( Red)





