BATURAJA ,Lenteraoku.com – Sebuah insiden tak terduga dialami dua pemudik asal Lampung Tengah di Stasiun Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, pada jum’at(13/3/2026).
Keduanya nyaris gagal melanjutkan perjalanan mudik setelah tertinggal kereta api tujuan Tanjung Karang, namun pertolongan cepat dari personel Polres OKU menyelamatkan situasi mereka.
Dua penumpang kereta api, Oktaviana (dewasa) dan seorang anggota keluarganya yang masih remaja, tertinggal kereta api jurusan Tanjung Karang yang seharusnya mereka naiki di Stasiun Baturaja.
Setelah tertinggal, mereka tidak memiliki tempat tujuan untuk bermalam sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya.
Korban adalah Oktaviana, warga Lampung Tengah, beserta seorang kerabat remajanya.
Pihak yang memberikan bantuan adalah personel Kepolisian Resor (Polres) Ogan Komering Ulu yang bertugas di Pos Pengamanan Terpadu Stasiun Kereta Api Baturaja.
Peristiwa ini terjadi di Stasiun Kereta Api Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan.
Keduanya tertinggal kereta pada jumat(13/3/2026). Mereka kemudian bermalam di pos pengamanan dan diberangkatkan pada sabtu pagi (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.
Meskipun tidak disebutkan secara rinci penyebabnya, kedua pemudik tersebut gagal menaiki kereta tujuan Tanjung Karang sehingga harus menunggu jadwal keberangkatan berikutnya. Kondisi diperparah dengan ketiadaan tempat menginap atau sanak saudara yang dapat mereka tumpangi selama menunggu di Baturaja.
Melihat kondisi kedua pemudik yang kebingungan dan tidak memiliki tempat tujuan, personel Polres OKU yang berjaga di Pos Pengamanan Terpadu Stasiun KAI Baturaja langsung bertindak.
Mereka mempersilakan Oktaviana dan keluarganya untuk beristirahat di pos pengamanan tersebut.
Selama berada di kawasan stasiun, petugas juga memberikan pendampingan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan mereka.
Keesokan paginya, Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 WIB, petugas kembali mendampingi kedua pemudik menuju peron keberangkatan.
Tak hanya mengantar hingga pintu masuk, polisi bahkan mengantarkan mereka langsung ke dalam gerbong kereta untuk memastikan keduanya benar-benar dapat berangkat dengan aman menuju Tanjung Karang.
Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Sandi Nugroho, mengapresiasi tindakan cepat personelnya.
Ia menegaskan bahwa Operasi Ketupat Musi 2026 merupakan operasi kemanusiaan.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Personel kami tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga hadir membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, menekankan pentingnya peran pos pengamanan sebagai titik perlindungan pemudik.
“Tidak ada pemudik yang boleh merasa sendirian atau terlantar. Setiap pos pengamanan adalah titik perlindungan bagi masyarakat,” tegas Nandang.
Ia juga mengimbau masyarakat yang mengalami kendala selama perjalanan mudik agar segera mendatangi pos pengamanan atau pos pelayanan Polri terdekat.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa kehadiran polisi di masa mudik tidak hanya untuk mengatur lalu lintas, tetapi juga hadir sebagai pelindung dan penolong masyarakat dalam berbagai situasi darurat.(Red)






